New Tracks
Riff Cepat Dan Gelap, Inheritors Lepas Single Brutal “Cheating Death”
Unit thrash metal asal Malang, Inheritors, melanjutkan fase kembalinya mereka pada 2026 dengan merilis single anyar bertajuk “Cheating Death”. Lagu ini terinspirasi dari pengalaman pribadi para personelnya yang pernah menghadapi situasi berbahaya, berhadapan langsung dengan kemungkinan terburuk dalam hidup.
Di saat yang sama, ketertarikan mereka terhadap kisah horor dan thriller, seperti Final Destination, juga memberikan warna pada narasi yang diangkat.
“Cheating Death” mengangkat gagasan tentang ilusi manusia yang merasa mampu mengelabui kematian. Dalam liriknya, Inheritors menggambarkan keyakinan semu itu sebagai sesuatu yang rapuh. Seberapa pun keras usaha untuk menghindar, kematian pada akhirnya selalu menemukan jalannya. Tema ini terasa universal, dekat dengan pengalaman banyak orang yang pernah bersinggungan dengan rasa kehilangan atau ancaman hidup.
Secara musikal, lagu ini memperlihatkan sisi paling kelam dan brutal dari Inheritors sejauh ini. Riff cepat dengan aroma thrash klasik dipadukan sentuhan proto-death thrash akhir 80-an yang kental. Komposisinya dibuat lebih rapat, groove terdengar lebih menghantam, sementara breakdown dan solo gitar hadir tanpa kompromi.
Bayangan era ‘Kill ’Em All’ dari Metallica hingga ‘Pleasure to Kill’ milik Kreator terasa jelas, dengan semangat Sepultura periode awal sebagai salah satu fondasi. Meski referensinya kuat, Inheritors tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan mengolahnya menjadi identitas yang relevan dengan konteks sekarang.
Single ini juga menjadi perkenalan resmi Galih sebagai gitaris baru. Untuk pertama kalinya Inheritors tampil dengan dua gitaris dalam formasi penuh. Galih, yang datang dari latar belakang non-thrash, justru membawa sudut pandang berbeda dalam merangkai riff dan solo.
Pendekatan Galih yang lebih eksploratif memperkaya dinamika lagu tanpa mengaburkan karakter gelap yang sudah melekat pada band ini. Hasilnya adalah warna suara yang terasa lebih tebal dan berat, sekaligus memberi ruang bagi eksplorasi materi yang lebih luas ke depannya.
“Cheating Death” juga menjadi bagian dari strategi perilisan bertahap menuju album penuh perdana Inheritors. Album tersebut dirancang sebagai semacam kolase perjalanan thrash metal dari dekade 80-an hingga 2000-an.
Setiap lagu akan menghadirkan pendekatan berbeda, baik dari sisi tempo, struktur, maupun atmosfer. Setelah delapan tahun vakum, Inheritors kini memandang musik sebagai saluran pelepasan emosi, tempat menumpahkan energi negatif, sekaligus bentuk warisan yang ingin mereka tinggalkan.
Struktur lagu yang dirancang untuk memantik moshpit sejak detik pertama hingga akhir menjadi penegasan sikap mereka. Distorsi, tempo tinggi, dan aura gelap yang pekat seolah menjadi bahasa utama untuk menyampaikan pesan bahwa mereka belum selesai.
Inheritors terbentuk pada Oktober 2014 di Malang. Mereka pertama kali muncul dengan single “Chainsaw Massacre” pada 2015, mengusung gaya thrash metal dan crossover yang terinspirasi oleh Metallica, Megadeth, dan Slayer, dengan lirik yang banyak mengambil referensi dari film horor.
Kini dengan formasi Dion sebagai vokalis, Patrick di gitar utama, Galih di gitar, Obed di bass dan vokal latar, serta Rufa di drum dan perkusi, Inheritors kembali dengan arah yang lebih tajam dan kesadaran musikal yang semakin matang.

