New Tracks

“SIN” Dari Santamonica: Feminitas Dan Mitologi Bertemu Dalam Musik Dan Imaji

Profile photo ofrafasya

Diterbitkan

pada

Santamonica

Setelah hampir dua dekade melangkah dengan tempo yang tak tergesa, Santamonica kembali menegaskan posisi mereka sebagai unit musik yang tidak pernah main aman. Setelah merilis “Aquarius” dan mini album ‘Reminisce 189‘ di tahun 2023, kini mereka meluncurkan single terbaru berjudul “SIN”, sebuah karya yang lahir dari amarah dan keresahan, terutama dari perspektif perempuan.

Lagu ini mengisahkan tentang luka yang diwariskan oleh sistem patriarki, serta bagaimana perempuan sejak lama dianggap sebagai penyebab dari dosa. Sebuah narasi yang terus hidup, dari kisah Adam dan Hawa hingga saat ini.

“SIN” ditulis oleh Sistine, alias Anindita Saryuf, yang juga memproduserinya bersama partner dan kolaborator lamanya, Joseph Saryuf. Meskipun ini adalah rilisan terbaru mereka, “SIN” sebenarnya sudah ada sejak 2008, saat Sistine mulai menggali pertanyaan-pertanyaan seputar ketidakadilan yang sering dialami perempuan.

Bertahun-tahun kemudian, lagu ini justru terasa semakin relevan. Sistine bahkan menyebut salah satu referensi visual yang belakangan terasa dekat dengan semangat lagunya: adegan ikonik Daenerys Targaryen yang membakar kota dalam “Game of Thrones”.

Kemarahan perempuan yang dikubur dalam waktu lama, lalu tiba-tiba berubah menjadi ancaman. “Lagu ini tentang momen titik balik,” katanya. “Tentang perempuan yang memilih untuk tidak lagi tunduk.”

Duo Santamonica

Santamonica / Photo by Harry Halim

Dari segi musikalitas, “SIN” tidak mengandalkan letupan atau klimaks yang meledak. Sebaliknya, lagu ini hadir dengan nuansa gelap, atmosfer yang tebal, dan narasi yang berkembang perlahan. Liriknya puitis, namun tidak menggurui.

Tak ada nada marah yang diucapkan dengan keras, tapi keresahan itu terasa nyata, mengalir pelan namun menggigit. Dalam hal ini, Santamonica tetap pada jalurnya: menciptakan musik yang tidak mendikte, tapi mengajak untuk merasa.

Bagian menarik lain dari rilisan ini adalah cerita visual yang menyertainya. Sampul digital “SIN” sebenarnya sudah dibuat sejak 2015, saat Santamonica tengah vakum. Saat itu Sistine bekerja sama dengan fotografer Ifan Hartanto dalam proyek visual yang melibatkan label Tangan, bersama beberapa stylist dan fotografer lain.

Foto tersebut menampilkan seorang perempuan di ruang jagal dengan apel di mulutnya, konsep ini terinspirasi dari lagu “SIN”, meskipun saat itu tidak ada rencana untuk merilis lagu ini. Dalam konteks sekarang, visual ini menemukan maknanya kembali: tubuh perempuan sebagai objek, sebagai komoditas, dan sebagai simbol yang sering kali dimaknai dari luar dirinya sendiri.

Bukan hanya lagunya yang kaya makna, video musik “SIN” juga jadi bagian penting dalam penyampaian pesan. Dibuat seperti diorama dalam kotak kaca, Sistine dan Joseph berdiri di tengah proyeksi visual tentang mitologi, feminitas, dan bentuk-bentuk perlawanan yang sunyi.

Santamonica SIN

Cuplikan video musik “SIN”

Mereka memainkan synthesizer lawas dengan latar warna artifisial dan bayangan yang bergulir seperti potongan mimpi. Setiap elemen tampak dirancang untuk memperkuat atmosfer dan narasi. Bukan sekadar pelengkap, video ini seperti ritual visual yang mengunci waktu, mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras.

Busana yang dikenakan juga bukan sembarang pilihan. Sistine dan Joseph tampil mengenakan couture dari Harry Halim, perhiasan wajah dari Rinaldy Yunardi, serta aksesori dari Galuh Anindita. Semua ini memperkaya dimensi visual “SIN”, mengaburkan batas antara seni pertunjukan, fashion, dan musik. Ada aura teatrikal, tapi juga sangat personal. Seolah ingin menekankan bahwa tubuh, suara, dan ekspresi adalah alat perlawanan itu sendiri.

Sebagai bagian dari perjalanan menuju album penuh berikutnya, ‘Wunderkammer’, lagu ini memberi gambaran arah baru Santamonica. Musiknya tetap atmosferik dan sinematik, dengan emosi yang jujur dan tidak dibuat-buat. Tapi “SIN” juga terasa lebih berani secara tematik.

Lagu ini bukan hanya tentang perempuan atau tentang sistem yang menindas, tapi juga tentang cara menghadapi luka yang diwariskan dan memilih untuk tak lagi menunduk. Dengan “SIN”, Santamonica membangun ruang naratif yang kompleks, tempat suara-suara sunyi bisa didengar dengan lebih lantang.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *