New Tracks
Single Terbaru Prass “Pada Akhirnya Kita Kan Mati” Jadi Titik Balik Kariernya Bersama 88Rising
Jatinangor kembali mengukuhkan posisinya sebagai salah satu tempat penting lahirnya talenta musik baru di Indonesia. Kali ini, kita berkenalan dengan Prass, seorang singer-songwriter muda yang terus menunjukkan perkembangan menarik dalam kariernya. Setelah merilis “Free As A Bird” pada bulan Juli lalu, ia kini kembali dengan single terbarunya yang berjudul “Pada Akhirnya Kita Kan Mati”, sebuah karya yang membuka babak baru dalam eksplorasi musiknya.
Lagu ini juga membawa kabar baik: Prass bekerja sama dengan 88Rising untuk mendukung distribusi dan promosi lagunya ke pasar internasional. Kerja sama ini merupakan langkah besar bagi seorang musisi independen yang selama ini mengelola seluruh proses musiknya secara mandiri. Dengan jaringan global yang dimiliki 88Rising, peluang Prass untuk menjangkau audiens di luar negeri kini semakin terbuka lebar.
Meski judulnya terdengar tajam dan memicu rasa ingin tahu, single ini tidak bermaksud membahas kematian dengan cara yang gelap atau tragis. Prass justru menekankan bahwa pesan utama lagunya adalah tentang kehidupan. Ia menjelaskan bahwa lagu ini lahir dari kesadaran untuk menerima segala hal yang terjadi, menyadari keterhubungan antar manusia, serta mensyukuri momen-momen kecil yang sering terlewatkan.
“Buat gue ini titik balik,” ungkap Prass. “Kalau kita sadar semua akan berakhir, mungkin kita bisa hidup lebih hadir. Lebih menghargai kehadiran orang lain, dan lebih jujur sama diri sendiri.”
Secara musikal, lagu “Pada Akhirnya Kita Kan Mati” menunjukkan keberanian Prass untuk memperluas spektrum suara yang ia tawarkan. Jika sebelumnya karyanya banyak dipenuhi nuansa country, kali ini ia beralih ke pendekatan pop yang lebih ringan dan lebih mudah diterima oleh publik. Elemen pedal steel masih ada, tetapi hanya sebagai aksen halus yang menjaga karakter Prass tanpa menghalangi arah baru yang ingin ia eksplorasi.
Dalam proses produksi, Prass menggandeng Hilmi Adriansyah yang berperan sebagai produser dan penata musik. Sejumlah nama turut menyumbang warna instrumen, seperti Maulana Dwi Putra pada drum, Hilman Firmansyah pada bass, Rezky Delian pada perkusi, Fadli Julistia pada gitar, Ratih Putri Apriliani pada keyboard, serta tambahan sentuhan trumpet dari Sigit Hadi Kurniawan. Single ini juga menjadi bagian dari album kedua Prass yang kini sedang disiapkan, diperkirakan memuat total 12 lagu baru.
Sementara itu, kisah awal kolaborasi Prass dengan 88Rising terdengar cukup unik. Semua bermula dari sebuah pesan di Instagram yang sempat ia ragukan.
“Gue pikir itu spam,” katanya sambil tertawa. “Ternyata beneran dari Future Asian Music, yang terkoneksi langsung sama 88Rising. Fokus awalnya distribusi dan pitching playlist, tapi ini udah jauh lebih besar daripada yang selama ini gue coba sendiri.”
Dengan keyakinan dan visi yang semakin matang, Prass berharap musiknya sekarang bisa menembus lebih banyak telinga, dari Jatinangor menuju pentas dunia. “Gue cuma pengen lagu ini bisa jadi pengingat bahwa hidup perlu dirayakan. Kita semua punya waktu yang terbatas, jadi jangan tunggu sampai terlambat buat hadir sepenuhnya.”
“Pada Akhirnya Kita Kan Mati” kini sudah tersedia di semua layanan streaming musik, mengajak para pendengar untuk merenung sejenak, lalu tersenyum dan melanjutkan langkah dengan rasa syukur yang baru.

