New Albums

Sisypus Menyusun Ingatan Dengan Distorsi Dan Ketenangan Di ‘Gelembung Days’

Profile photo ofArduino

Diterbitkan

pada

Sisypus

Masa remaja sering kali menjadi bahan bakar tak habis-habisnya bagi banyak karya musik dan film, tapi bagi Sisypus, tema itu bukan sekadar nostalgia. Dalam EP perdana mereka, ‘Gelembung Days’, kuartet asal Jakarta ini mencoba menangkap fragmen masa kecil dan masa remaja dengan cara yang lebih reflektif,  bukan sebagai mitos glamor “coming-of-age”, melainkan sebagai upaya sederhana untuk mengarsipkan kenangan yang nyaris menguap.

“‘Gelembung Days’ adalah usaha kami untuk menyimpan potongan kecil masa itu. Supaya kalau suatu hari kami menoleh ke belakang, kisahnya masih ada, tidak hilang, tidak menguap. Kami juga ingin menunjukkan bahwa masa remaja tidak selalu soal kecepatan dan lampu-lampu terang,” ujar mereka.

Lima lagu dalam EP ini menggambarkan masa transisi yang jujur, ketika kedewasaan belum tiba sepenuhnya, tapi kepolosan mulai pudar. Ada kebingungan, ketidaktahuan, dan keinginan untuk memahami dunia di sekitar. Namun di balik semua itu, Sisypus mencoba memotret rasa yang polos dan rapuh, seperti gelembung sabun yang indah tapi mudah pecah.

Band Sisypus

Secara musikal, ‘Gelembung Days’ terasa seperti kolase dari suara-suara yang menemani mereka tumbuh. Gitar distorsi yang terinspirasi Seattle sound, dengung shoegaze yang lembut, dan nuansa pop rock Indonesia yang hangat berpadu tanpa pretensi.

Sisypus tidak berusaha meniru satu gaya tertentu; mereka justru membiarkan semua pengaruh itu bertabrakan, menciptakan warna khas yang jujur dan sedikit naif, persis seperti kenangan masa lalu yang mereka simpan.

EP ini bukan hanya catatan personal, tetapi juga cermin bagi siapa pun yang pernah merasakan masa remaja sebagai ruang liminal: setengah sadar, setengah bingung. Ada kehangatan sekaligus kepahitan di setiap lagu, seperti mengingat aroma ruang kelas yang lama ditinggalkan atau jalan pulang yang kini terasa asing.

Sisypus terdiri dari Anggito Prabandaru, Dimas Haryo Metaram, Kemal Fajar, dan Fernando Uno Azharo, empat sahabat SMA yang membentuk band pop/rock alternatif dengan semangat eksistensial dan introspektif.

Sejak akhir 2024, mereka telah memperkenalkan diri melalui dua single, “Masehi” dan “Di Brawijaya”, yang kini berlanjut dalam bentuk narasi lebih utuh lewat EP ini.

Gelembung Days’ kini sudah bisa didengarkan di berbagai platform digital, menjadi langkah awal Sisypus dalam menulis bab baru: tentang tumbuh, kehilangan, dan menerima waktu yang tak bisa diulang.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *