New Tracks
Somniumsaic Rilis “Aksa Daksa”, Cerminan Tentang Akhir Kehidupan
Unit musik Somniumsaic membuka 2026 dengan merilis single terbaru bertajuk “Aksa Daksa”, sekaligus menjadi karya pertama mereka yang sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia. Lagu ini membawa pendekatan yang lebih tenang dan gelap, dengan penekanan pada kekuatan lirik dan atmosfer yang dibangun secara bertahap, menciptakan nuansa melankolis yang cukup pekat.
“Aksa Daksa” lahir dari gagasan tentang akhir kehidupan yang diusulkan oleh Sandy, lalu dikembangkan menjadi komposisi yang lebih menekankan emosi daripada kompleksitas musikal.
Mereka memilih pendekatan yang lebih sederhana dalam aransemen agar pesan dalam lirik dapat tersampaikan dengan lebih jelas. Perubahan ini juga terjadi seiring dengan langkah baru band setelah bergabung dengan FireFly Records di bawah naungan Musica Studio’s, yang memunculkan spekulasi tentang arah musik mereka di masa depan.
Lagu ini merupakan single kedua dari album penuh kedua yang sedang mereka siapkan. Secara tematik, “Aksa Daksa” terinspirasi oleh fenomena “terminal lucidity”, yaitu kondisi di mana seseorang yang berada dalam keadaan koma tiba-tiba mendapatkan kejernihan kesadaran dalam waktu singkat sebelum akhirnya meninggal.

Ide ini diambil dari salah satu alur cerita dalam Grey’s Anatomy, yang menggambarkan momen terakhir sebagai ruang perpisahan yang intim antara seseorang dan orang-orang terdekatnya.
Dalam konteks ini, Somniumsaic berusaha menangkap emosi yang muncul dari pertemuan singkat di ambang perpisahan. Lagu ini merangkum gagasan bahwa meskipun seseorang telah pergi, kenangan yang ditinggalkan tetap hidup dan terus hadir dalam ingatan.
Kalimat “People go, memories stay” menjadi benang merah yang menghubungkan keseluruhan narasi, menghadirkan sudut pandang yang sederhana tapi terkait dengan pengalaman banyak orang..
“Aksa Daksa” juga diposisikan sebagai bentuk empati bagi mereka yang sedang merawat atau kehilangan orang terkasih. Lagu ini membawa pesan tentang pentingnya setiap momen yang dijalani dengan tulus, bahwa waktu yang singkat sekalipun dapat meninggalkan jejak yang bertahan lama dalam kehidupan seseorang.
Dari sisi visual, konsep video musiknya digarap dengan pendekatan minimalis. Vokalis Alex tampil dalam format lip-sync sambil berjalan, direkam dalam gerakan lambat untuk memperkuat suasana reflektif. Lokasi pengambilan gambar dilakukan di Pemakaman Sukun, Malang, yang selaras dengan tema lagu yang berkaitan dengan kematian dan kehilangan.
Judul “Aksa Daksa” memiliki makna yang cukup simbolik. “Aksa” merujuk pada jarak yang jauh, sementara “Daksa” berkaitan dengan tubuh. Dalam interpretasi yang lebih luas, frasa ini dapat dipahami sebagai tubuh yang kehilangan jiwanya, menggambarkan kondisi terpisah antara fisik dan kesadaran.
Gagasan ini kemudian diterjemahkan ke dalam narasi visual sebagai ruang antara keberadaan dan ketiadaan, tempat di mana kenangan dan kehilangan saling beririsan.
Dengan perilisan ini, Somniumsaic menunjukkan sisi yang lebih intim dalam pendekatan mereka. “Aksa Daksa” tidak hanya menjadi langkah lanjutan menuju album berikutnya, tetapi juga ruang refleksi yang mengajak pendengar untuk berhenti sejenak dan mengingat kembali makna dari setiap pertemuan dan perpisahan. Lagu ini kini telah tersedia di berbagai platform streaming digital.
