Music News

Spotify Diboikot Musisi Dunia karena Investasi ke Pabrik Senjata

Diterbitkan

pada

Spotify Diboikot Musisi Dunia

Gelombang kritik terhadap Spotify kembali menguat, kali ini menyusul temuan bahwa perusahaan streaming musik terbesar di dunia itu diketahui berinvestasi di perusahaan produsen senjata. Temuan tersebut langsung memantik reaksi dari sejumlah musisi, yang secara terbuka menyatakan boikot terhadap platform tersebut. Mereka menilai langkah investasi itu bertentangan dengan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung dunia musik, yakni solidaritas, ekspresi damai, dan kemanusiaan.

Informasi mengenai keterlibatan Spotify dalam pendanaan perusahaan senjata ini pertama kali diungkap oleh BDS Movement (Boycott, Divestment, Sanctions), sebuah gerakan internasional yang mendorong boikot terhadap entitas yang terlibat dalam pendudukan militer dan kekerasan bersenjata.

Menurut laporan tersebut, Spotify disebut memiliki keterlibatan finansial tidak langsung melalui dana investasi yang mendukung industri pertahanan, termasuk perusahaan yang memproduksi senjata dan teknologi militer yang digunakan dalam konflik-konflik bersenjata di berbagai negara.

Tak butuh waktu lama hingga para musisi, baik independen maupun yang sudah punya nama besar, melayangkan protes mereka. Beberapa di antaranya bahkan menarik katalog lagunya dari Spotify atau menyatakan tidak akan merilis karya baru di sana. Aksi ini dianggap sebagai bentuk solidaritas terhadap korban konflik bersenjata dan juga sebagai tekanan moral terhadap Spotify agar meninjau ulang kebijakan investasinya.

Salah satu nama yang paling vokal adalah rapper Inggris, Lowkey, yang dikenal aktif dalam gerakan anti-perang. Lewat akun media sosialnya, ia menulis, “Tidak mungkin saya terus membiarkan musik saya berada di platform yang ikut menyokong kematian dan penderitaan manusia lewat investasi seperti ini.”

Lowkey

Lowkey, Rapper asal Inggris

Senada dengan Lowkey, band indie asal Swedia, Crying Day Care Choir, juga menyatakan akan menarik seluruh katalog mereka dari Spotify. “Kami ingin musik kami menjadi bagian dari solusi, bukan dari mesin kekerasan,” tulis mereka dalam pernyataan resmi.

Di sisi lain, sejumlah musisi dari Asia Tenggara termasuk beberapa band dari Filipina dan Indonesia ikut menyuarakan kekecewaan, meski belum sampai tahap penarikan karya. Beberapa menyebut bahwa dominasi Spotify di pasar lokal membuat mereka kesulitan mencari alternatif distribusi yang seefektif itu. Namun begitu, mereka tetap menyuarakan tuntutan agar Spotify bersikap transparan dan bertanggung jawab.

Di tengah gelombang kritik itu, pihak Spotify belum memberikan pernyataan resmi yang secara langsung menanggapi isu investasi di perusahaan senjata. Namun dalam beberapa kesempatan, juru bicara Spotify menyatakan bahwa “perusahaan tidak memiliki kontrol langsung atas semua entitas investasi dana pensiun atau portofolio keuangan eksternal lainnya”. Pernyataan itu dianggap tidak cukup menjawab tuntutan musisi dan publik yang ingin melihat langkah konkret.

Beberapa analis industri menyebut bahwa langkah boikot ini bisa menjadi pukulan citra serius bagi Spotify, yang dalam beberapa tahun terakhir sudah kerap menjadi sasaran kritik, mulai dari sistem pembayaran royalti yang dianggap tidak adil hingga dukungan terhadap konten-konten kontroversial.

“Musisi bukan hanya pencipta lagu, mereka juga warga dunia dengan pandangan moral. Ketika uang dari lagu mereka ikut mendanai senjata, itu menjadi persoalan etis yang besar,” ujar David Turner, analis media dan penulis Penny Fractions, buletin industri streaming musik.

Gerakan ini juga memicu diskusi lebih luas di kalangan musisi dan penikmat musik mengenai hubungan antara industri hiburan dan kapitalisme global. Beberapa pihak menyerukan perlunya membangun alternatif distribusi musik yang lebih etis dan transparan, termasuk melalui platform kooperatif atau desentralisasi berbasis komunitas.

Hingga berita ini ditulis, kampanye boikot terhadap Spotify masih terus berkembang. Petisi online yang menuntut Spotify menghentikan segala bentuk keterlibatan finansial dengan perusahaan senjata telah ditandatangani puluhan ribu orang. Dan tampaknya, tekanan ini belum akan berhenti dalam waktu dekat.

Bagi para musisi yang telah menyatakan boikot, keputusan mereka bukan sekadar soal distribusi musik. Ini soal posisi politik, keberpihakan, dan tanggung jawab moral di tengah dunia yang terus dilanda kekerasan bersenjata.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

âś… KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *