International

The Hives Rayakan Identitas Rock Di Album ‘The Hives Forever Forever The Hives’

Profile photo ofArduino

Diterbitkan

pada

The Hives

Setelah mengenang sosok fiksi penulis lagu mereka lewat album ‘The Death of Randy Fitzsimmons’ pada tahun 2023, The Hives kembali dengan langkah lebih berani di album studio ketujuh yang berjudul ‘The Hives Forever Forever The Hives‘.

Album ini dilengkapi dengan sampul yang menampilkan para personel dalam seragam kerajaan yang terkesan agung. Ini bisa jadi terdengar congkak jika dilakukan band lain, namun bagi The Hives, ini justru bentuk cinta mereka pada esensi rock band itu sendiri, dan mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk merayakannya.

Album terbaru ini hadir setelah perilisan empat single, jumlah yang relatif sedikit untuk standar era digital saat ini. Total ada sepuluh lagu baru, ditambah intro, interlude, serta versi studio yang lama ditunggu dari nomor andalan panggung, “Paint A Picture”.

Dari awal, album ini memperlihatkan drama khas The Hives. Intro yang menyebut lantang judul album, lalu disusul potongan “Symphony No. 5” karya Beethoven, seolah menegaskan bahwa band ini selalu mengedepankan teatrikalitas.

Lagu berikutnya, “Enough Is Enough”, langsung mengembalikan pendengar pada akar garage rock mereka dengan riff kasar dan power chord penuh semangat. Di tengah tren banyak band indie era 2000-an yang kini melunak ke arah pop-polished, The Hives memilih jalan sebaliknya, mengingatkan bahwa mereka masih setia pada energi mentah yang sama.

The Hives Band

Beberapa lagu di album ini juga memiliki muatan politis. “Legalise Living” dan “Hooray Hooray” mengangkat isu kebebasan dan kemewahan, disampaikan dengan satire yang tajam dan penuh sindiran. Meskipun efek sirene polisi mungkin terdengar terlalu jelas, itu sejalan dengan gaya The Hives yang memang tidak mengutamakan subtilitas.

Sejak peluncuran ‘Veni Vedi Vicious’ pada tahun 2004, The Hives telah dikenal sebagai salah satu band dengan penampilan panggung yang paling mengesankan. Mereka dikenal sebagai band pemantik suasana sebelum nama besar lain naik ke panggung, dari Foo Fighters di Download Festival Paris hingga Green Day di Hyde Park.

Tak heran, materi di album ini pun tampak dirancang dengan konser sebagai tujuan utama. “Roll Out The Red Carpet” hadir dengan refrein yang mudah menghentak massa, sementara “Bad Call” menghadirkan energi liar tanpa basa-basi.

Secara sonik, tak ada terobosan radikal di sini. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin terasa stagnan, tapi bagi penggemar setia, konsistensi justru jadi kabar melegakan. Filosofi The Hives sederhana: jika sesuatu masih berfungsi, tak perlu diubah. Seperti setelan hitam-putih ikonik yang tetap mereka kenakan sejak awal 2000-an, identitas band ini tidak tergoyahkan.

Album ditutup dengan track berjudul sama, “The Hives Forever Forever The Hives”. Nuansa synth indie bernuansa nostalgia dan chorus yang mengundang singalong membuatnya terdengar seperti dibuat khusus untuk encore di panggung.

Album ini jelas ditujukan untuk para penggemar, baik yang sudah mengikuti perjalanan The Hives selama 25 tahun terakhir maupun yang baru bergabung. Dengan tur di Inggris dan Eropa yang akan berlangsung musim gugur ini, termasuk jadwal di Liverpool dan Nottingham, The Hives kembali menunjukkan bahwa mereka masih eksis sebagai band rock yang tahu betul siapa mereka.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *