New Albums
Jugo Djarot Rilis Debut EP “ALTAR”, Tribut Untuk Pop Klasik Indonesia
Setelah lima tahun berkutat di belakang layar sebagai penulis, produser, dan kolaborator untuk berbagai musisi, Jugo Djarot akhirnya kembali muncul sebagai solois lewat EP perdananya, ‘ALTAR’, yang dirilis melalui Kolibri Rekords.
Mini album ini memotret kegelisahan sehari-hari, nostalgia yang membekas, serta “Derau” emosional yang kerap muncul tanpa aba-aba. Semua itu ia kemas dengan sentuhan soul, pop klasik Indonesia, dan lapisan synth hangat yang menuntun pendengarnya masuk ke dunia batin yang intim.
Judul sekaligus lagu pembuka “Altar” menjadi pusat gravitasi dari keseluruhan EP. Lagu ini adalah karya paling reflektif dan paling luas dari segi struktur, dibangun dalam tiga bagian: pertemuan, penolakan, dan penerimaan.
Melalui pembagian itu, Jugo menyusun perjalanan emosional yang utuh hanya dalam satu trek. Permainan flute dan piano menghadirkan nuansa duka yang tidak selalu mudah dijelaskan secara verbal, mengingatkan pendengar pada gaya penceritaan pop klasik era “Badai Pasti Berlalu“, album ikonik yang ia anggap sebagai penghormatan untuk sang paman, Eros Djarot.

Dalam visi Jugo, “Altar” adalah ruang pengakuan, tempat seseorang menatap dirinya tanpa topeng, mengungkap yang disembunyikan, lalu menerima semuanya tanpa syarat. Lagu ini menetapkan arah sekaligus menjadi fondasi dari keseluruhan EP.
Jugo mengatakan bahwa ia menulis “Altar” layaknya komposisi orkestra kecil yang mengikuti gelombang naik-turun dalam sebuah hubungan. Ketertarikannya pada cara musik klasik bercerita tanpa harus banyak berbicara ia terjemahkan ke dalam bahasa pop yang lebih sederhana, namun tetap penuh lapisan. Ia berharap komposisi ini tidak hanya terdengar, tetapi juga tinggal lama di benak pendengarnya.
Kisah dalam EP kemudian berkembang ke arah yang lebih luas melalui lima lagu lain. “Derau” menyentuh isu rasa bersalah sekaligus kenyamanan yang muncul dari sebuah adiksi, disajikan dalam nuansa pop 70-an dan soul yang lembut.
“Biru” meminjam warna Chicano soul untuk menggambarkan jatuh cinta pada sosok baru saat hati belum sepenuhnya pulih dari kehilangan yang lama, sebentuk luka yang terasa jujur dan dekat. “Menuju 25”, terinspirasi Emitt Rhodes, bercerita tentang bekerja berlebihan sebagai cara bertahan hidup di tengah tekanan usia dan tuntutan hidup.
“Mawar” menghadirkan pesan optimistis tentang tumbuh dan bertahan meski dunia terasa tidak memberi ruang. Sementara “Rombeng”, satu-satunya trek instrumental, membawa nuansa spaghetti western yang melankolis sebagai penghormatan untuk sang ayah.
‘ALTAR’ diproduksi bersama Sinatrya Dharaka dari Thee Marloes, serta melibatkan kontribusi Tommy Satwick, Alit Djarot, dan Yuyi Trirachma. Hasilnya adalah dunia kecil yang terasa luas secara emosional, menghadirkan kehangatan dalam setiap detail. Meski mengangkat tema yang personal dan sering kali rapuh, musik dalam EP ini tetap terdengar lembut dan mengajak, bukan menekan.
Jugo Djarot, yang selama ini dikenal lewat perpaduan soul, pop psikedelik klasik, dan atmosfer puitis, kini membuka dunia baru dalam kariernya. ‘ALTAR’ menjadi ruang perkenalan ulang, sebuah proyek yang jujur, matang, dan menunjukkan kembali suaranya sebagai musisi yang selama ini lebih banyak bersuara lewat karya orang lain.
Support Gigsplay Dengan Saweria