Music News
Inggris Terbitkan Aturan Baru Untuk Menekan Calo Tiket Konser
Inggris hari ini akan mengesahkan aturan baru yang menargetkan praktik jual kembali tiket konser dengan harga selangit. Pemerintah menilai langkah ini mendesak untuk melindungi penggemar yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran eksploitasi para calo dan situs penjualan kembali. Rencana ini muncul setelah gelombang protes dari musisi besar yang menilai pasar tiket semakin tidak masuk akal.
Dorongan itu menguat beberapa hari setelah Coldplay, Dua Lipa, The Cure, Radiohead, dan sejumlah nama besar lain menandatangani surat terbuka kepada pemerintah. Mereka meminta negara turun tangan dan memastikan penggemar tidak terus dirugikan oleh harga yang melambung, terutama pada konser berskala besar yang belakangan kerap memicu perebutan tiket dalam hitungan menit.
Menurut laporan BBC News, para menteri di Inggris dijadwalkan mengumumkan kebijakan tersebut pada Rabu (19/11). Aturan itu nantinya akan menekan ruang gerak situs dan individu yang menjual ulang tiket acara musik, teater, komedi, hingga olahraga.
Meskipun penjualan kembali masih diperbolehkan, harga yang dikenakan harus sesuai dengan harga asli tiket, dan biaya tambahan akan ditekan seminimal mungkin. Pemerintah ingin memastikan bahwa transaksi tetap adil tanpa membebani penggemar.
Departemen Kebudayaan, Media, dan Olahraga Inggris memperkirakan kebijakan ini bisa memangkas rata-rata harga tiket penjualan kembali sebesar 37 poundsterling, atau sekitar Rp813 ribu, dan potensi penghematan hingga 112 poundsterling per tahun bagi mereka yang rutin menonton konser.

Tiket “Eras Tour” Taylor Swift (istimewa)
Angka itu dianggap cukup signifikan mengingat tren harga yang kian melambung, terutama di gelaran besar seperti Eras Tour Taylor Swift atau rencana reuni Oasis yang memicu histeria massal.
Platform penjualan kembali, baik yang beroperasi secara offline maupun digital, juga akan dibebani kewajiban hukum untuk mengawasi praktik di dalam layanan mereka. Aturan ini berlaku bagi siapa saja yang menyediakan layanan di wilayah Inggris, meski perusahaan tersebut berbasis di luar negeri. Pemerintah ingin mempersempit celah bagi pihak-pihak yang selama ini memanfaatkan regulasi yang longgar.
Pekan lalu, desakan serupa datang dari para musisi Inggris yang menuntut Perdana Menteri Keir Starmer menepati janjinya menindak calo tiket. Pemerintah sebelumnya telah membuka konsultasi publik terkait masalah ini, tetapi para musisi menilai tindakan nyata di lapangan sudah sangat ditunggu. Mereka menyoroti perlunya pemulihan kepercayaan publik terhadap sistem tiket yang selama ini dianggap tidak berpihak pada penggemar setia.
Di tengah fenomena harga tiket yang bisa melonjak hingga ribuan poundsterling, perhatian juga tertuju pada penyelidikan Otoritas Persaingan dan Pasar Inggris terhadap Ticketmaster.
Lembaga itu memeriksa apakah perusahaan tersebut sudah benar-benar patuh terhadap aturan perlindungan konsumen. Pemerintah berharap kebijakan baru ini menjadi awal dari ekosistem tiket yang lebih sehat dan lebih ramah bagi semua orang yang hanya ingin menikmati panggung idola mereka tanpa harus tercekik harga.
Support Gigsplay Dengan Saweria