International

Tame Impala Rilis Album Baru “Deadbeat”: Era Baru Club-Psych Telah Dimulai!

Profile photo ofArduino

Diterbitkan

pada

Tame Impala
Tame Impala (credit: Julian Klincewicz)

Setelah lima tahun sejak meluncurkan “The Slow Rush”, Tame Impala akhirnya kembali dengan album baru bertajuk ‘Deadbeat’ yang dirilis pada 17 Oktober 2025 melalui Columbia Records. Proyek ini menjadi langkah baru bagi Kevin Parker, sosok di balik nama Tame Impala, yang kali ini menyalurkan energi psychedelic-nya ke dalam bentuk paling berani dan eksploratif sejauh ini.

Sebelum merilis album secara penuh, Parker terlebih dahulu memperkenalkan tiga single: “Loser”, “End of Summer”, dan “Dracula”, yang langsung masuk ke tangga lagu Billboard Hot 100 serta debut di kategori AAA dan Alternative. Ini menjadi pencapaian terbesar Tame Impala hingga saat ini.

Bersamaan dengan album barunya, ia juga meluncurkan video musik untuk lagu pembuka “My Old Ways”, yang disutradarai oleh Kristofski. Video ini menampilkan potongan gambar cinéma vérité dari proses Parker menciptakan musik di berbagai lokasi di seluruh dunia, memberikan gambaran yang lebih personal dan autentik tentang dirinya.

‘Deadbeat’ merupakan eksplorasi Parker terhadap budaya bush doof, rave liar yang ada di pedalaman Australia, khususnya di kawasan Margaret River pada tahun 90-an. Ia menggambarkannya sebagai bentuk rave masa depan yang menggabungkan kedalaman psikedelia dengan eksperimen klub.

Hasilnya, album ini terdengar seperti Tame Impala dalam versi yang lebih bebas, intens, dan imersif. “Dalam 15 tahun terakhir, mungkin tidak ada musisi rock lain yang mampu menyeimbangkan berbagai dunia sebaik Parker,” tulis Grayson Haver Currin dalam GQ Hype.

Secara musikal, Parker menunjukkan kemampuan menulis lagu yang paling introspektif dalam kariernya. Jika sebelumnya Tame Impala dikenal dengan produksi yang halus dan cermat, kali ini ia menambahkan elemen yang lebih kasar dan spontan.

‘Deadbeat’ menampilkan minimalisme yang tetap kaya akan tekstur, di mana suara analog dan digital berpadu tanpa batas, menciptakan lanskap yang terasa baru namun tetap mencerminkan karakter khasnya. Vokal Parker juga terdengar lebih bebas, penuh permainan, dan sarat emosi.

Musisi Tame Impala album Deadbeat

Proses penggarapan album ini berlangsung di berbagai lokasi selama beberapa tahun, terutama di Fremantle, kota asal Parker, dan Wave House, studionya di Injidup, Australia Barat. Di sana, ia mengubah cara kerjanya menjadi lebih intuitif dan kurang perfeksionis, tetapi tetap memperhatikan detail. ‘Deadbeat’ terdengar seperti cerminan seorang seniman yang telah berdamai dengan dirinya sendiri, namun masih berani bertanya, “Apakah saya bisa lebih dari ini?

Tame Impala akan membawa energi baru ini ke atas panggung dalam tur “Deadbeat Live 2025” yang dimulai 27 Oktober di Barclays Center, Brooklyn, sebelum berlanjut ke Los Angeles dan Eropa pada musim semi 2026.

Sebagai salah satu figur paling berpengaruh di musik modern, Kevin Parker tetap menjadi sosok yang sulit dikategorikan. Ia memainkan hampir semua instrumen dalam setiap rilisan Tame Impala dan berperan sebagai penulis lagu, produser, mixer, hingga engineer.

Kariernya dihiasi empat nominasi GRAMMY dan satu kemenangan lewat kolaborasinya bersama Justice di “Neverender” (2024). Di Australia, Parker telah mengantongi 13 penghargaan ARIA dari total 27 nominasi, serta penghargaan BRIT untuk Best International Band.

Diskografinya kini berisi lima album: ‘InnerSpeaker’, ‘Lonerism’, ‘Currents’, ‘The Slow Rush’, dan ‘Deadbeat’, yang menegaskan pergeseran Tame Impala dari proyek psikedelia rumahan menjadi fenomena internasional.

Lagu-lagu seperti “The Less I Know The Better”, yang telah melampaui dua miliar streams, dan “Lost in Yesterday” atau “Is It True” yang mencapai puncak radio alternatif AS, semakin memperkuat status Parker sebagai salah satu penulis lagu paling berpengaruh di generasinya.

Dalam ‘Deadbeat’, Parker seolah menatap masa lalu dan masa depan sekaligus: mengenang euforia rave dan perjalanan batinnya. Album ini merupakan pernyataan tentang penerimaan, perubahan, dan keberanian untuk terus mencari arah, bahkan setelah mencapai puncak.

Jika ‘The Slow Rush’ menggambarkan waktu yang terus bergerak, maka ‘Deadbeat’ adalah tentang mengambil jeda sejenak, mendengarkan denyut yang tersisa, dan menemukan makna di tengah kebisingan.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *